After 4 years

Here’s what I learned after 4 years being on the “outer circle” at my department:

People care. However, if the leader doesn’t care, then the people can lose their sense of belonging, lose any kind of caring feeling they have for an institution. They become apathetic and only care about their themselves. The institution can “go down the drain” and people move on.

Being a leader is not easy. Being a good leader? Damn near impossible.

Advertisements

Perang Media Sosial yang Menyeret Nama Universitas

Tahun baru, cerita lama, modus baru?

Tadinya, saya cuma ikut ketawa melihat keributan yang ditimbulkan seorang artis tahun 80-an di beberapa blognya, antara lain di sini sambil bersimpati kepada universitas tetangga di Bogor. Bagaimana tidak, logo universitas diumbar sembarangan, nama seorang dekan diseret-seret nggak karuan. Tapi, itu memang resiko bagi anggota komunitas akademik (baca: dosen) yang memutuskan hadir di jejaring media sosial seperti facebook atau twitter.

Jadi apa sumber keributannya?  Bisa buka salah satu blog si ibu artis (ada beberapa), seperti di atas, atau di blogdetik. Intinya, ibu artis marah karena gelar akademiknya yang terakhir dipertanyakan oleh seorang pengguna twitter. Oleh karena ibu artis ini sudah pernah mengamuk juga sebelumnya, maka pengguna twitter di Indonesia secara kolektif tertawa bersama, kecuali tentu yang namanya ikut dibawa-bawa. Tapi yang kenal si ibu, sudah “maklum” perilaku beliau, dan tidak ingin ikut ribut.

Lalu, kenapa saya yang sekarang ikut ribut? Kalau teman saya bilang “mau ngaku-ngaku titisan dewa, atau Cleopatra, silakan, tapi jangan menyeret almamater.” Ya, bapak/ibu/saudara, ternyata orang memang senang kalau ada afiliasi dengan PTN-PTN besar di Indonesia, (walau saya dengar, akhir-akhir ini, jadi “orang UI” justru mengundang pertanyaan 🙂 Tapi itu untuk posting lain.). Jadi, kalau ada orang iseng membawa-bawa nama almamater, jelas gerah lah.

Kembali lagi ke masalah ibu artis vs seorang tweep, ternyata ada beberapa orang yang iseng-iseng mencoba cari latarbelakang orang yang disebut “kamseupay” oleh si ibu artis. Saya sendiri sudah familiar dengan orang tersebut dan tadinya tidak terlalu peduli karena menganggap beliau tidak penting, dan ingin nebeng “tenar” dengan kelompok dosen-dosen yang tergabung dalam gerakan #SAVEUI dan Perempuan Lintas Fakultas untuk Reformasi UI (PELITA UI).

Dan apa yang terjadi? Muncul sebuah akun twitter @PelitaUI, yang isinya mati-matian bela si tweep lulusan universitas Amsterdam, bahkan secara berseri menuliskan riwayat kuliah ibu lulusan universitas Amsterdam. Kalau isinya cuma itu, plus beberapa orasi ilmiah pengajar UI yang tergabung dalam #SAVE UI dan Pelita UI, ya silakan. Tapi hari ini, saya periksa, dan muncul tweet-tweet seperti ini:

1. “Seluruh Pengajar @SaveUI dan @PelitaUI adalah lulusan UI yg sahih @DeeDeeKartika @tamrintomagola @_Baso_

2.Tapi yg tergabung dalam @SaveUI dan @PelitaUI sahih karena kami lulus sebelum masa Gumilar @tamrintomagola @DeeDeeKartika @_baso_

Dan yang sudah bersifat fitnah, menurut saya adalah tweet ini, yang me-reply pertanyaan seorang alumni yang lulus pada periode 2007-2011:

“Gumilar banyak menerima mahasiswa baru jalur undangan yg tdk berkualitas @bebe_silhouette: Saya lulus era Bpk Gumilar, ada bedanya ya Bu?”

Hohohoho, mohon maaf, boleh berpandangan miring terhadap Pak Rektor, silakan lapor kepada BPK, KPK, ICW, dan berbagai institusi lain, tapi mempertanyakan kualitas input UI secara umum pada periode Pak Gumilar menurut saya adalah suatu penghinaan terhadap institusi UI. Kalau mau ngecek daftar mahasiswa yang diterima selama periode Pak Gumilar sampai saat ini (2008-2011), tolong cek ke Direktorat Pendidikan. Jangan main tweet yang seperti itu. BPK juga melakukan pengecekan kok selama audit di UI dengan secara random menelpon orang tua mahasiswa untuk cross check berita tentang uang masuk di UI.

Dosen UI jumlahnya sekitar 1800-an. Tidak dosen semua tergabung dalam kelompok #SAVEUI atau Pelita UI. Tidak semua dosen punya akun Facebook atau Twitter. Tapi itu tidak berarti bahwa dosen-dosen tersebut tidak bekerja keras untuk menghasilkan lulusan yang kompeten. Mungkin malah mereka lebih kerja keras karena tidak sibuk main twitter *wink*. Membuat pernyataan seperti itu di sebuah media sosial seperti twitter, sungguh tidak mencerminkan perilaku akademik.

Jadi #SAVEUI, Pelita UI tolong deh, kendalikan anggotanya. Orang yang peduli UI bukan cuma kelompok anda.

[Crosspost dari blog saya di UI karena penting bagi saya]

My horoscope today: good advice!

Just because you have a strong opinion about how to do something at work, your certainty doesn’t make your idea the best way. Being open to learning from others requires you to let go of your attachment to being right. Forget about proving your superiority; instead, acknowledge that everyone has something special to offer. Respectfully asking your co-workers to share their knowledge and expertise is a sign of your own intelligence.

Why does it feel different this time?

Having been part of university management this past decade has often put me in situations where the “management” is seemingly portrayed as some kinda of “bad guy” trying to disturb the haven of academic society in the university.

In all situations, I have enjoyed support of my direct superiors whenever faced with people who, hmm, don’t quite understand the decisions made in the university.

That is, until this weekend when a direct superior posted a scathing email in the staff mailing list, questioning the motives of a selection committee that I am a member of.

Honestly, the email felt like a punch in the gut. Of course close friends told me to ignore this email, and to move on. Of course we move on, but not before sending out a reply keeping emotions in check through gritted teeth.

You know, it wasn’t the first provocative I’d ever received. But this one caught me off guard, because it came from a direct superior, who I just met the day before and said practically nothing. Instead, the person decided to ruin a weekend by sending out an email basically accusing the committee of trying to ruin the collegial atmosphere, and challenging us to come up with better rules and regulations.

I would’ve accepted this “public” scolding if I hadn’t shown the rules and regulations the previous day. I had presented the draft and received a quiet assent. And yet, the following day, came the ridiculous email. This person had crossed the fine line of governing and politicking.

99% of the time, I can ignore emails like that. This was the 1% that I couldn’t. This time, it felt different because the person who did the provoking was a direct superior.

And that my friends, shows the quality of a leader. You deal the issues when YOU face them, and not by sending a public email to the staff mailing list.

The New Normal: Life without Mom

The passing of my Mom “forced” us (Dad, brothers, me, in-laws, grandkids) to adjust to a new life. I remember tweeting about “Establishing a new normal”. After the funeral, we faced the practicalities such as closing bank accounts, credit cards etc.

After fortysomething days, we’re still adjusting. Today we closed Mom’s mobile number. Dad said “Mom’s using another telephone now.”

So tonight I deleted her number from my contact list.

Can I say it just sucks, big time? 😦

Mengapa Presiden Barack Obama (lebih) berarti dibandingkan dengan yang lain?

Menjelang kedatangan Presiden Barack Obama ada beberapa orang sering mengomentari posting saya yang kelihatan (sangat) pro-Obama, pro-Amerika pokoknya “antek Amerika” lah, some more cynical than others.

Ah ya, memang saya “antek Amerika”. Mau apa lo?

:::smile:::

Masalahnya, pada kurun waktu yang kurang lebih sama (1969-74), saya mengalami nasib serupa Presiden Obama. Ikut ayah saya yang belajar di USA. Kalau Barack Obama jadi “immersed” dengan budaya Indonesia, saya ya kesenggol budaya barat. Jadi, saya bisa paham tentang perasaan Obama pada Indonesia karena kurang lebih saya mengalami hal yang sama. Obama demen bakso, saya demen McD 🙂

Sehingga, ketika Senator muda yang pertama kali saya lihat di Oprah kemudian memutuskan mencalonkan diri jadi Presiden Amerika tahun 2008, saya ikut terbawa arus “mendukung” pencalonan beliau. Padahal ya warga negara bukan, tinggal di sana juga tidak. Cuma saya ngga seperti gerombolan “teman SD” beliau yang sampai nonton bareng konvensi partai Demokrat dan pemilihan presiden.

2008 itu memang tahun yang “istimewa” karena ekonomi Amerika ambruk. Akibatnya ekonomi dunia juga amburadul. Jadi, siapa yang menang pemilihan Presiden menjadi perhatian global. Tadinya Barack Obama dianggap sebagai “penggembira” (underdog) saja dalam pencalonan Demokrat. Karena saya juga tahu jeleknya Amerika, saya rada kasihan sama Barack Obama. Tidak mungkin Amerika ikhlas punya presiden “orang keturunan” (itu sama aja Indonesia dipimpin etnis Cina misalnya lhooo). Pasti orang bilang belum saatnya.

Tapi, tapi apa yang terjadi? Dengan gaya bottom up/grass roots, Barack Obama (dan tim sukses) berhasil menggaet dukungan berarti (termasuk dukungan dana) untuk bisa kampanye optimal. Tim sukses juga khas politik: muda dan sombong :-). Too cut a long story short, Barack Obama berhasil mengalahkan lawan-lawannya.

Jadi calon Demokrat, mantap. (Ternyata saya lupa satu faktor: orang Amerika tetap lebih senang dipimpin seorang pria meskipun hitam, daripada wanita, apalagi wanita itu Hilary Clinton :-))

Jadi Presiden Amerika Serikat? Istilah anak sekarang: *gubrag*. Bahasa Amerika-nya “He*l just froze over, I think

Beneran. Walau saya ngarep.com bahwa suatu ketika ada golongan minoritas jadi Presiden, saya terus terang ngga nyangka itu terjadi pada tahun 2008. Bengong lihat hasil pemilihan di CNN.

So my admiration for this President continues, lewat hal-hal seperti ini:

1. Barack Obama berusaha memenuhi janji kampanye, yaitu memperbaiki ASKES Amerika dan Ekonomi Amerika. Programnya khas partai Demokrat yang mengandalkan keterlibatan pemerintah pusat dalam implementasi, termasuk dukungan dana. Bahwa bikin defisit, dan bakal ‘dibayar’ oleh anak cucu Obama, well itu ya soal lain. Tapi dia tidak cuma janji di mulut. Dia jadikan ASKES Amerika sebagai prioritas.

2. Barack Obama konsisten untuk dukungannya terhadap Islam. Ngga usah meributkan agamanya apa, dan kenapa masih dukung Israel juga. Tapi lihatlah Presiden Obama gigih mendukung perbaikan hubungan dengan penganut agama Islam. Dari pidato di tahun 2009, dan kemudian pada tahun 2010 gigih mendukung pembangunan Islamic Center deket Ground Zero WTC. Tidak ada sinar kompromi dengan minta Center tersebut geser menjauh supaya jaga perasaan “mayoritas”. That’s a leader, my friend. Sementara lihatlah apa yang sedang terjadi dengan perlakuan terhadap minoritas di Indonesia.

3. Barack Obama anti diskriminasi. Mungkin, nilai agama kita akan membatasi dukungan kita terhadap orang yang “berbeda” dengan kita secara orientasi seksual alias homoseksual. Saya juga sempat gitu kok. Tapi, mau homo atau heteroseksual, orang tetap orang kan? Mau Islam, Ahmadiyah atau HKBP, Buddhis, tetap orang kan? Pantaskah kita menghakimi orang tersebut karena perbedaan keyakinan maupun hal lain? Rasanya tidak. Coba masuk website Gedung Putih dan cari video tentang pesan anti-bullying Presiden Obama.

4. Barack Obama memahami pentingnya pendidikan sains dan matematika sebagai salah satu kunci kemajuan bangsa. Dan telah mewujudkannya dalam beberapa program tingkat nasional.

5. Dan last but not least, Barack Obama, meskipun seorang politisi, rendah hati (humble) dan tulus (sincere). Orang akan bilang “Halah, lebay…” Atau teman saya “Elo apaan sih, biasa aja”. No, seriously, makanya, coba dengarkan pidatonya secara seksama. Tidak usah mengerti kata per kata (walau itu akan sangat menolong). Pidato di jamuan kenegaraan di Istana Negara membuat saya terharu, karena beliau berbicara dengan nada yang sangat tulus dan terharu mengingat ibunya (kalau presiden SBY mungkin nangis?).

So, apabila setelah baca ini, dan masih heran kenapa saya kagum dengan Presiden Barack Obama, ya tidak apa-apa. Terima kasih untuk membaca.

My recent horoscope: manggut-manggut deh…

You are putting time and effort into your work or, perhaps, toward a community project. Either way, your optimism might be flagging now, leaving you with an uncomfortable uncertainty about your future. You are tempted to withdraw as you wonder if your work will actually pay off. Don’t abandon your plans; instead, be more realistic about them so you will be able to reach your goals.