In too Deep?

Sometimes (sometimes???) I think I care too much about certain things. When I do that, I tend to take stuff personally and it kinda eats at me.

Not good, obviously.

I know if I stopped caring, the earth would still rotate on its axis. It does NOT revolve around me. Would it be a better place? Well, what do I care?

See, there’s the thing. I CARE. Because at times, I know what they say isn’t true. And I feel the urge to spit out what I know is true.And because I do, I tend get into stupid arguments. And then it goes round and round.

OK, self note: PICK YOUR BATTLES. Let go of the other stuff.

Advertisements

Perang Media Sosial yang Menyeret Nama Universitas

Tahun baru, cerita lama, modus baru?

Tadinya, saya cuma ikut ketawa melihat keributan yang ditimbulkan seorang artis tahun 80-an di beberapa blognya, antara lain di sini sambil bersimpati kepada universitas tetangga di Bogor. Bagaimana tidak, logo universitas diumbar sembarangan, nama seorang dekan diseret-seret nggak karuan. Tapi, itu memang resiko bagi anggota komunitas akademik (baca: dosen) yang memutuskan hadir di jejaring media sosial seperti facebook atau twitter.

Jadi apa sumber keributannya?  Bisa buka salah satu blog si ibu artis (ada beberapa), seperti di atas, atau di blogdetik. Intinya, ibu artis marah karena gelar akademiknya yang terakhir dipertanyakan oleh seorang pengguna twitter. Oleh karena ibu artis ini sudah pernah mengamuk juga sebelumnya, maka pengguna twitter di Indonesia secara kolektif tertawa bersama, kecuali tentu yang namanya ikut dibawa-bawa. Tapi yang kenal si ibu, sudah “maklum” perilaku beliau, dan tidak ingin ikut ribut.

Lalu, kenapa saya yang sekarang ikut ribut? Kalau teman saya bilang “mau ngaku-ngaku titisan dewa, atau Cleopatra, silakan, tapi jangan menyeret almamater.” Ya, bapak/ibu/saudara, ternyata orang memang senang kalau ada afiliasi dengan PTN-PTN besar di Indonesia, (walau saya dengar, akhir-akhir ini, jadi “orang UI” justru mengundang pertanyaan 🙂 Tapi itu untuk posting lain.). Jadi, kalau ada orang iseng membawa-bawa nama almamater, jelas gerah lah.

Kembali lagi ke masalah ibu artis vs seorang tweep, ternyata ada beberapa orang yang iseng-iseng mencoba cari latarbelakang orang yang disebut “kamseupay” oleh si ibu artis. Saya sendiri sudah familiar dengan orang tersebut dan tadinya tidak terlalu peduli karena menganggap beliau tidak penting, dan ingin nebeng “tenar” dengan kelompok dosen-dosen yang tergabung dalam gerakan #SAVEUI dan Perempuan Lintas Fakultas untuk Reformasi UI (PELITA UI).

Dan apa yang terjadi? Muncul sebuah akun twitter @PelitaUI, yang isinya mati-matian bela si tweep lulusan universitas Amsterdam, bahkan secara berseri menuliskan riwayat kuliah ibu lulusan universitas Amsterdam. Kalau isinya cuma itu, plus beberapa orasi ilmiah pengajar UI yang tergabung dalam #SAVE UI dan Pelita UI, ya silakan. Tapi hari ini, saya periksa, dan muncul tweet-tweet seperti ini:

1. “Seluruh Pengajar @SaveUI dan @PelitaUI adalah lulusan UI yg sahih @DeeDeeKartika @tamrintomagola @_Baso_

2.Tapi yg tergabung dalam @SaveUI dan @PelitaUI sahih karena kami lulus sebelum masa Gumilar @tamrintomagola @DeeDeeKartika @_baso_

Dan yang sudah bersifat fitnah, menurut saya adalah tweet ini, yang me-reply pertanyaan seorang alumni yang lulus pada periode 2007-2011:

“Gumilar banyak menerima mahasiswa baru jalur undangan yg tdk berkualitas @bebe_silhouette: Saya lulus era Bpk Gumilar, ada bedanya ya Bu?”

Hohohoho, mohon maaf, boleh berpandangan miring terhadap Pak Rektor, silakan lapor kepada BPK, KPK, ICW, dan berbagai institusi lain, tapi mempertanyakan kualitas input UI secara umum pada periode Pak Gumilar menurut saya adalah suatu penghinaan terhadap institusi UI. Kalau mau ngecek daftar mahasiswa yang diterima selama periode Pak Gumilar sampai saat ini (2008-2011), tolong cek ke Direktorat Pendidikan. Jangan main tweet yang seperti itu. BPK juga melakukan pengecekan kok selama audit di UI dengan secara random menelpon orang tua mahasiswa untuk cross check berita tentang uang masuk di UI.

Dosen UI jumlahnya sekitar 1800-an. Tidak dosen semua tergabung dalam kelompok #SAVEUI atau Pelita UI. Tidak semua dosen punya akun Facebook atau Twitter. Tapi itu tidak berarti bahwa dosen-dosen tersebut tidak bekerja keras untuk menghasilkan lulusan yang kompeten. Mungkin malah mereka lebih kerja keras karena tidak sibuk main twitter *wink*. Membuat pernyataan seperti itu di sebuah media sosial seperti twitter, sungguh tidak mencerminkan perilaku akademik.

Jadi #SAVEUI, Pelita UI tolong deh, kendalikan anggotanya. Orang yang peduli UI bukan cuma kelompok anda.

[Crosspost dari blog saya di UI karena penting bagi saya]

This made me laugh!

Originally posted on my teaching blog, this is too funny to not post here.

As the big midterm for microbiology is nearing, I am currently developing exam questions, and stumbled upon a sample multiple choice exam that had answers like this (question not included as it is a potential exam question):

A. The mixed culture has grown in a manner that is consistent with your estimates based on growth rates for the isolated strains
B. The mixed culture, while clearly showing growth, did not increase as rapidly as you estimated based on growth rates for the isolated strains, suggesting that one or both of the strains, when grown together, have a decreased generation time
C. The mixed culture increased in number more rapidly than you would have predicted based on the individual growth rates, suggesting that the two strains interacted in a manner that increased the generation time of one or both of the strains.
D. This question is entirely too complicated for me to answer
E. I have decided not to become a microbiologist

I wonder how many students answered D & E?

Pendidikan Tinggi, Mahal (tapi Perlu)

Sebagian tulisan ini saya buat sebagai respon email di suatu terhadap artikel ini. Kalau karena editorial seperti ini masyarakat yang secara ekonomi kurang mampu sampai tidak berani mendaftar ke perguruan tinggu yang diinginkan, bolehkah saya melaporkan media massa karena pemberitaan yang berpihak dan tidak sepenuhnya benar? Masa cuma infotainment yang melaporkan Luna Maya?

Sudah lama saya gerah mendengar pendapat berbagai kalangan tentang betapa komersilnya pendidikan tinggi sekarang apalagi dulu, kuliah di PTN seperti UI, ITB, IPB, UGM dll jaman tahun 80-90an tergolong murah. Terlalu murah bahkan. Sekarang di abad ke 21, begitu uang kuliah per semester naik menjadi hitungan “juta” tiba-tiba banyak orang teriak: “Wah, UI sekarang komersil banget ya”, “Untuk kuliah di UI mesti sedia uang banyak”, dan yang paling bikin gerah “yang kuliah di UI cuma anak orang kaya”.

Memang artikel dimaksud merupakan editorial jadi pendapat si penulis. Silakan deh. Cuma kalau mau memaki-maki Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP), dibaca dulu isi UU-BHP secara tuntas. Dibaca dulu apakah ada pasal pemerintah memang betul-betul lepas tangan (tidak ada). Dibaca dulu apakah ada peraturan yang menutup akses terhadap mahasiswa kurang mampu (tidak ada, bahkan ada kewajiban harus memiliki populasi mahasiswa kurang mampu 20%). Hal yang tidak/kurang terungkap adalah bahwa sebetulnya PTS juga punya interest untuk tidak mendukung UU BHP yaitu kewajiban memiliki Majelis Wali Amanah merupakan kenyataan bahwa tidak ada lagi kepemilikan tunggal di Perguruan Tinggi. Alias, “yayasan” atau pemilik kehilangan mayoritas kepemilikan. Perubahan budaya ini yang masih sukar diterima dan sebetulnya menjadi alasan di balik alasan.

Universitas yang tua/besar/BHMN memang selalu dituding sebagai PT komersial dan tidak lagi manusiawi. Saya kadang nyengir kecut. Kalau sesuatu itu komersial kan berarti ada keuntungan? Apakah ada bukti bahwa universitas mengeruk keuntungan? Uangnya kan sebagian besar untuk biaya operasional yang juga semakin tinggi. Tapi (dan hal ini yang seringkali cuma jadi footnote karena tidak menarik dan tidak “menjual” seperti isu komersialisasi) banyak bantuan keuangan dalam bentuk keringanan maupun beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa. Dan jangan pikir bahwa yang kuliah di PT tua/besar/BHMN anak orang kaya semua. Saya punya kok mahasiswa anak tukang bakso, buruh cuci, tukang sampah dorong di RT. Memang harus memenuhi syarat kelulusan masuk. Kalau sudah diterima baru kita berunding masalah biaya. Rasanya kalau UI sudah bolak balik kita jelaskan pada berbagai kalangan termasuk media tapi seringkali bagian itu hilang tuh tidak dicetak. Power of editing hehehe.

Dulu waktu kuliah S1, saya cuma bayar 54.000/semester. Tapi dengan konsekuensi apa? Praktikum relatif seadanya, perpustakaan tidak punya buku lengkap, pencairan dana dari pemerintah sulit (sekarang masih juga sih :-)) dan sulit untuk melakukan suatu kegiatan yang bersifat pengembangan bagi guru-guru/dosen saya waktu itu. Dosen harus banting tulang sabet sana-sini (sekarang masih juga walau sudah mulai berkurang) sehingga tidak bisa melakukan penelitian. Bantuan ada tapi tidak merata. Sering ada sumbangan peralatan, tapi barang yang datang tidak sesuai dengan yang dipesan.Tidak heran kemajuan ilmu terutama sains dan teknologi di Indonesia terhambat, lha dulu dana pemerintah seadanya.

Sekarang? Di fakultas saya, selain uang biaya pendidikan per semester, tetap tidak ada uang tambahan seperti untuk praktikum. Biaya pendidikan termasuk: akses internet gratis, akses perpustakaan (ada uang registrasi 5000 kalau tidak salah), akses kepada Pusat Kesehatan Mahasiswa (pasien yang mahasiswa/dosen cuma bayar Rp.2500 untuk obat!!!), akses ke Bis kampus, pinjam sepeda , dll.

Uang pemerintah tetap “seadanya” (ya tergantung siapa yang ditanya). Menurut saya, uang yang ada haruslah lebih untuk membesarkan pendidikan dasar dan menengah. Masih banyak SD di pelosok ala Laskar Pelangi (terima kasih Andrea Hirata untuk peningkatan awareness yang tidak terkira) yang belum tersentuh anggaran pendidikan 20%. Masih banyak guru yang cuma dibayar 5 ribu rupiah/bulan. Hal tersebut harusnya jadi prioritas, dan bukan terus beri ijin buka program studi baru padahal yang ada pun tidak semuanya penuh daya tampungnya? Atau terus sekedar memberi bantuan pada PTS yang muridnya cuma 100 dan jumlah mahasiswa baru terus menurun? Tuduhan bahwa PTN yang merebut mahasiswa PTS dengan buka segala macam program itu bagi saya adalah maaf, argumen “basi”. Kalau memang punya menawarkan sesuatu yang beda, pasti mahasiswa akan datang. Lihat saja UBINUS. Dan jangan langsung teriak “Yaaa mereka kan punya modal kuat”. Lha terus kalau tidak punya modal untuk berani investasi, kenapa buka perguruan tinggi???

Menyelenggarakan pendidikan butuh biaya. Negara lain di dunia yang punya konsep pendidikan gratis, juga sudah punya sistem perpajakan yang baik. Semua bayar pajak yang lumayan tinggi. Tidak bisa dibandingkan. Indonesia? Kalau bisa ngga bayar pajak, ngga bayar deh. Rame-rame punya NPWP juga biar ngga bayar fiskal hehehe.

Oh ya, satu lagi yang menggemaskan. Pada saat membahas biaya pendidikan, biasanya golongan orang tua yang paling ribut adalah bukan golongan kurang mampu, tapi golongan yang sebenarnya punya uang. Prinsipnya kalau bisa menawar, kenapa tidak dicoba? Namanya juga usaha hehehe. Pesan saya kepada Bapak dan ibu orang tua calon mahasiswa: Rencanakan pendidikan putra-putri anda dengan baik. Manfaatkan tabungan pendidikan/asuransi dll yang dapat membantu biaya pendidikan kalau perlu.

Nah kepada teman-teman saya yang membaca, saya cuplik percakapan saya dengan 2 orang mahasiswa:
1. Saya: “Apa pekerjaan orang tua mu?”
Mahasiswa: “Jualan bakso bu.”
saya: “Oooh… punya warung?”
mahasiswa: “Tidak bu, pakai gerobak.” (dikeluarkan foto rumahnya yang diambil oleh tim survei beasiswa). “Bu mohon ibu percaya bahwa orang tua saya tukang bakso. Gerobak ibu saya tidak ada di foto, karena ibu sudah berangkat.”
saya: speechless for 5 minutes.

2. Saya: “Apa pekerjaan orang tua mu?”
Mahasiswa: “Ayah saya tukang sampah”
Saya: “oh di dinas kebersihan?”
mahasiswa: “Bukan bu, beliau yang dorong-dorong gerobak sampah di RT”
Saya: speechless again.

It is for them I slave for my university. Saya percaya, pendidikan yang baik akan mengeluarkan orang keluar dari kemiskinan. Oleh karena itu, pleaseeee, tolong, kalau putra-putri diterima di universitas besar, tolong jangan ikut “negosiasi” untuk minta keringanan. Kami harus memikirkan mahasiswa yang betul-betul membutuhkan. Kalau Bapak dan ibu tidak segan bayar mahal untuk masuk ke SD/SMP/SMA favorit mengapa begitu sampai di universitas, jadi tawar menawar?

Quote from President Barack Obama’s Speech on launch of “Educate to Innovate”

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidato peluncuran program “Educate to Innovate” :

The leadership of tomorrow depends on how we educate our students, especially in those fields who hold promise of future innovations and innovators. That’s why education in math and science is so important.”

Time and again, we have let partisan and petty bickering, stand in the way of progress. Time and again, we have let our children down.”

Jadi dapatkah kita sejenak menaruh drama politik di belakang (seberapa pun pentingnya pemberantasan korupsi) untuk juga memberi energi yang sama untuk perbaikan pendidikan? Apalagi bila pendidikan yang baik juga dapat menghasilkan orang-orang yang tidak korupsi?

Berbahasa (apapun) dengan baik dan benar 3: Indonesia atau Inggris atau…?

atau an entire different language entirely :-)?

Ugh, keluar lagi deh si penjahat bahasa yang suka campur-campur ini. Saya tergelitik setelah membaca sebuah posting di blog ini . Saya belum kenalan dengan si empunya blog, who is quite prolific and opinionated (and BTW, if you’re reading this, hello…), tapi “tembakan” beliau lumayan kena nih, hehehe.

Iya, saya termasuk golongan yang lumayan lama terekspos Bahasa Inggris di negeri koloni Inggris yaitu Amerika Serikat (nanti kalau dibilang negara asal Bahasa Inggris, nanti saya ditimpuk Ratu Elizabeth, hahaha. Asal jangan balik ke jaman King Henry, nanti saya dipancung kayak Anne Boleyn. Duh, kebanyakan nonton The Tudors nihh…)

Eh sampai mana tadi? Saya hobi ngomong campur-campur. Saya juga memang termasuk yang lantang bilang ke orang “Eh, kalau baca novel, pakai Bahasa aslinya, jangan baca terjemahan…” soalnya, penerjemah kita terkadang belum bisa menangkap ruh si pengarang (mohon maaf kepada profesi penerjemah). Malah, kalau lagi cape, seringkali merepet pakai Bahasa Inggris. Ngga tahu kenapa, setelan otaknya kali. Moga-moga, tidak dianggap sok pamer ya…

Oya. Sebulan terakhir ini, saya kebetulan lagi sering jalan ke daerah, entah karena tugas atau main, jadi sempat lihat dan dengar berapa hal :

1. Pramugari-pramugari muda di LionAir lumayan bagus lho Bahasa Inggrisnya sewaktu menyampaikan safety procedures. Salut! Now, if they could only repair those broken seats…

2. Channel Surfing di hotel: Ketemu sinetron dengan pemain Cinta Laura.Decided that she is indeed, using the accent as a gimmick. Berharap ada orang yang menyadarkan dia bahwa, nobody is going to take her seriously if she talks like that.

3. Tapi, tapi, keponakan saya bilang “I talk like her Tante Sita…” yes dear, but you’re cute and you’re mine! ::wink, wink:: Ngomong-ngomong, Si keponakan ini baru saja selesai Year-6 di negeri Prince William dan akan masuk Year-7. Sudah mulai belajar English Grammar secara serius. Dan sudah mulai lihat, bahwa di Indonesia, penggunaan Bahasa Inggris masih perlu diperbaiki. Saat kita nonton Ramayana Ballet di Jogja dan dia baca sinopsis dalam Bahasa Inggris, dahinya berkerut. Memang, yang nulis sinopsisnya perlu proofreader. Atau perlu kursus lagi sama keponakan saya, hehehe.

Jadi, di HUT RI ke 63 ini marilah kita berbahasa apapun dengan baik dan benar!

A Tribute to the Three Musketeers

As time draws to a close of another UNISTAFF programme, I feel the need to say something, mostly because this is the last year for ISOS carrying out UNISTAFF.

I call them The Three Musketeers. I think they also see themselves that way. And looking up the original Three Musketeers story, I think it is appropriate. Although you most likely cannot see them as Athos, Porthos and Aramis but seven years ago, I was a d’Artagnan, leaving home to become a Musketeer at the training ground that is ISOS, University of Kassel, Witzenhausen Germnay, determined to defend the honor of Indonesian Higher Education 🙂

So who are these three gentlemen who I love to call the Musketeers?

I’ll start with Siawuch Amini. Sia Amini is the passionate researcher. Always has a lot to say, and it often comes out as jumbled words on the board. The images I have of Sia are those of true researcher who is most happy in the field, in the laboratory or in front of his computer, so when he’s the classroom, he sometimes looks out of place, and I also sometimes have a hard time understanding him. But beneath the grumpy exterior, he’s a lovable guy.

Then we have Matthias Wesseler. Matthias is the quintessential teacher. His concept of “educating someone is lighting a candle, not filling a empty glass” is one principle that I hold on to this day. Motivation is the key to unlocking a student’s potential, so that is what I continue to try to do in my students. Soft spoken, quiet, his optimistic look on life is uplifting and infectious.

What can I say about Michael Fremerey? The ideas he throws at someone are so often thought provoking and they incite emotions in you that never come up otherwise. He is the true sparring partner for me, patiently listening to my ideas, arguments, complaints and what not. Our discussions are always lively. Spreading the message of Change and Leadership is his calling, and he truly has contibuted to my personal change.

Together, these three have collectively trained around 400 university staff, young (and not so young) apprentices, ‘d’Artagnan’s who come to seek guidance at UNISTAFF. Most of them have moved on to become very important people at their institutions, agents-of-change who managed to create change on different levels. Some are quiet and never heard from again, but that’s okay, because you can’t expect all of them to grow and develop. What they have done is amazing. I can only hope that after seven years, I am now worthy to be the fourth (or fortieth, or four hundreth) Musketeer and stand beside them.

And so as the 2008 UNISTAFF comes to a close, I (virtually) stand up to honor these three gentlemen who truly embodied the spirit of the Musketeers “All for One, and One for All”.