At an equilibrium…


You Are 45% Left Brained, 55% Right Brained


The left side of your brain controls verbal ability, attention to detail, and reasoning.
Left brained people are good at communication and persuading others.
If you’re left brained, you are likely good at math and logic.
Your left brain prefers dogs, reading, and quiet.
The right side of your brain is all about creativity and flexibility.
Daring and intuitive, right brained people see the world in their unique way.
If you’re right brained, you likely have a talent for creative writing and art.
Your right brain prefers day dreaming, philosophy, and sports.

Are You Right or Left Brained?

Graduation!

[Ceritanya, ibu Sita sedang memberikan sambutan wisuda]

"It was the best of times, it was the worst of times…"

Kalimat ini merupakan kalimat pembuka wakil wisudawan Spring Semester di University of Wisconsin, Madison, May 1994. Sudah lama, ya? Kok itu yang diingat? Soalnya, saya berada di tengah-tengah rombongan wisudawan pada saat itu. Wisuda di universitas-universitas Amerika mirip dengan suasana di Indonesia. Meriah banget. Mau lagi spring, summer atau winter, seluruh keluarga berbondong-bondong hadir. Ayah, Ibu, Adik, Kakak, Tante, Nenek, Kakek… yah pokoknya sampai itu gymnasium luber deh. Karena jarak Amerika Indonesia yang jauh, hanya ayah-ibu saya saja yang datang. Saya ingat, ayah saya sempet ngerasa sal-tum dengan jas lengkap (karena lebih banyak yang casual) tapi beliau menghibur diri "Ini kan, the States, nggak ada istilah saltum…" Memang betul, wisuda di Amerika jarang ada dress code. Mau pakai jas lengkap atau tshirt, enggak ditolak masuk. Pokoknya, on that one day, everyone is happy. Ada sense of achievement. Perkara besok belum dapet kerjaan, atau application ke program PhD nggak lolos, pada hari itu, at least satu tahapan proses pendidikan dinyatakan selesai, and they can say:

"I DID IT!"

Fast forward, 24 Agustus 2007.

Hari ini, Departemen Biologi melepas 30 orang wisudawan/wati. Dua orang punya predikat cum laude. Saya sempat tercekat para wisudawan/wati yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik karena saya ingat mereka pada saat mereka kuliah. Rata-rata anteeeng kalau kuliah. Duduk dengan manis. Ada juga yang tidur. Banyak yang main SMS.

Saya juga ingat pada saat mereka mulai penelitian. Saya lihat mereka jungkir balik mengambil data. Ada yang bolak-balik ke laboratorium di luar Depok, ada yang nyebur ke laut, naik ke gunung. Banyak yang bermalam di gedung Departemen Biologi, nungguin reaksi PCR atau mengikuti kurva pertumbuhan.  Ekspresi muka bermacam-macam. Data tidak seperti yang diharapkan. Tiap diskusi dengan pembimbing, kok, makin banyak coretannya? Mungkin ini adalah the worst of times.

Tapi jangan salah, banyak yang menemukan cinta di Departemen ini. It was the best of times, because I found my soulmate. Cieeee, romantis yah? Ibu Sita itu, romantic at heart. The stories I hear make me smile. Ah, to be young and in love… Eh, eh, tapi kan, nggak semua jadi dengan "cinta"nya di kampus? Lha terus kenapa?  But think of the stories you can tell your children in the future…

Akhirnya, saya melihat mereka pada saat ketua sidang menyatakan "Anda berhak menyandang gelar S.Si…" Kelihatan sekali, ekspresi kelegaan, kegembiraan di muka mereka. Ibaratnya, si roller coaster of emotions sampai di stasiun terakhir.

Dan hari ini, mereka dikumpulkan di Balairung UI, dan dirayakan oleh seluruh universitas, termasuk mahasiswa baru, yang sudah pasti terbengong-bengong membayangkan, "Kapan ya, saya bisa jadi wisudawan?"

Ada rasa sedih, atau mungkin terharu. Bagi saya yang belum punya anak kandung sendiri, ya rombongan inilah yang tiap tahun saya claim sebagai anak-anak saya. Setiap anak adalah individu, dengan achievement masing-masing. Predikat boleh berbeda,  tapi bagi semua wisudawan, this is your day. On this day you can say: I DID IT!

Selamat untuk para wisudawan dan wisudawati Departemen Biologi FMIPA-UI semester ATA 2006/2007!

Lagi-Lagi Tentang Bahasa Inggris

Yaa, tentang Bahasa Inggris lagi… semoga belum bosan, setelah ini saya nulis tentang hal lain…

Life at the the Department has been very hectic. Mungkin mahasiswa memperhatikan ada beberapa dosen lenyap dari pandangan. Kalau bu Sita sih, memang sudah sering menghilang, karena (menurut rumors yang beredar) bu Sita, kan, banyak proyek 😉

Jujur saja, kampus kita jarang terima tamu, apalagi profesor-profesor LN. Akan tetapi, selama dua hari kemarin, kita kedatangan dua rombongan tamu dari LN! Rombongan pertama datang dari Negeri Belanda , sedangkan rombongan kedua datang dari Swedia. Terpaksalah gen Bahasa Inggris saya harus turn on, karena untuk bincang-bincang, saya tidak bisa Bahasa Belanda, apalagi Bahasa Swedia. Terpaksa juga banyak pekerjaan rutin diabaikan, dan untuk itu, saya mohon maaf, terutama kepada mahasiswa.

Kedua rombongan datang untuk hal yang berbeda, tapi ada tema berulang yang disampaikan, yaitu tentang kesempatan melanjutkan sekolah di Belanda dan Swedia bagi lulusan Departemen Biologi. Dan yang ditekankan adalah, mereka mencari the young scientists 🙂 That means you, para alumni (dan juga, calon alumni) Biologi tersayang!

Persyaratan berbeda-beda, tapi ada benang merah persyaratan yaitu lagi-lagi, TOEFL Score of minimum 550. Malah ada program di Belanda yang minta TOEFL 600, karena programnya adalah Top Master Program yang sangat kompetitif (jatah 10 orang saja dari seluruh dunia). Dan satu hal lagi… calon harus menulis suatu statement of purpose/letter of motivation (dalam Bahasa Inggris, tentunya). Ini yang lebih berat, karena menuntut kemampuan tulis yang cukup meyakinkan.

But the point is, these programs are out there for your taking. What you want to do, is up to you. Jangan takut berbicara dan menulis, lama-lama pasti akan membaik. Manfaatkan makhluk yang bernama weblog /blog seperti ini untuk menulis.

Selamat menikmati libur!

Pentingnya bisa Bhs Inggris (tapi bukan les TOEFL)

Sudah satu bulan ini saya disibukkan (lebih tepatnya, disiksa ;-)) oleh penyusunan proposal pengiriman karyasiswa/calon S3 ke LN lewat program presidential scholars fund. Dalam program tersebut universitas yang diundang dapat mengirim sampai 30 calon Ph.D ke LN (Amerika, Jepang, dll) untuk mendalami bidang unggulan universitas. Untuk bidang unggulan UI, sila jenguk ke sini .

Keterlibatan saya dalam pembuatan proposal banyak ditunjang oleh kemampuan saya dalam berbahasa Inggris. Sambil menyusun, saya perhatikan requirement nya adalah skor TOEFL 525. Tidak terlalu tinggi, karena calon toh akan dilatih lagi sebelum berangkat. Tapi sebetulnya, skor TOEFL itu pun tidak akan banyak berguna kalau kemampuan bahasa Inggris tidak dilatih terus.

Saya jadi ingat kembali ke jaman kuliah S2 dulu. Hari pertama kuliah di Madison Wisconsin, langsung ikut Introduction to Biochemistry dan pikiran pertama saya adalah "Walah, ini kalau tidak biasa dengar orang Amerika ngomong, bisa frustrasi nih!" Dosen bicara dengan cepat selama 120 menit di ruang kelas segede B 101. Apalagi mahasiswa Indonesia cuma saya seorang (jaman itu, belajar biochemistry tidak populer di kalangan mahasiswa Indonesia :-)) Sekarang sih, alumni Biologi UI lumayan bertebaran di universitas-universitas USA, Eropa dan Jepang. Sebagai guru, ya bangga dong melihat ini, walau kontribusi sebagai dosen Bahasa Inggris sih, keciiil.

Nah,  karena melihat banyak friend request datang dari alumni-alumni (yang dulu pernah ikut kuliah Bhs Inggris ;-)), saya ingin garisbawahi lagi pentingya bisa Bahasa Inggris apabila ingin bersekolah (lagi). Kesempatan banyak, tidak perlu khawatir. Yang penting bukan mati-matian kursus TOEFL (yang makin lama makin mahal), akan tetapi exposure kepada Bahasa Inggris secara teratur. Kalau membaca Harry Potter atau Shopaholic series atau Da Vinci Code, cari versi Inggris, kalau nonton Spiderman jangan lihat teks subtitle. Mau belajar dari Ibu Sita lagi? Nggak kapok ya? 😉 Baca-baca tulisan saya di Sita’s musings . Saya pun harus terus melatih kemampuan saya, karena kalau tidak, kemampuan saya akan merosot juga. Maaf, belum banyak posting, karena harus curi-curi waktu (dan bandwidth UI yang lebar) seperti sekarang ini.

Lha kalau tidak mau sekolah di USA/UK/Australia kan tidak perlu Bhs Inggris? Betul, dan untuk mereka-mereka, sila abaikan posting ini :-)).

New [Academic] Year, New Job(s)…New Me?

September brings a new batch of students at the university, and this year it also brings not one, but two new jobs for me.

I am now the Koordinator Pendidikan (Academic Coordinator) at one the departments at one of the faculties at the biggest university in Depok, Indonesia.

For those who read this before… yeah I edited this post, because it turns out that the 2nd job didn’t work out… so just one job for me!

Keep the Faith

I’m not sure how to title this entry, because it’s basically a rant about how some money mysteriously disappeared from purse.

It’s been happening to me on and off these couple of months, but I always chalked it up to my constant state of disorganization. But the past weekend shocked me and made me freak out. I am not making this up. A mere 36 hours after I received some money in an envelope, part of its contents disappeared, as in “Poof!”, “without a trace”…

The regular questions were asked. “Did you leave your purse unattended?” “Was it open?” “Did you stop somewhere and a pickpocket got to you?” Answer is no, no, no.

I really, really don’t know what happened. It’s an X-File! (The American TV show, in case anyone out there is wondering) I can’t explain it.

So why, keep the faith?

Well, as a practicing Muslim, I believe in the existence of the “other world” and it’s “occupants”. It’s explained in the Qur’an. I also believe that there are evil twisted humans that use the “other world” for their personal purposes. Rational? Nope? Logical? Are you kidding? But it is POSSIBLE.
If indeed there is someone who has a trained “other world being” out there to get my money, well then I can only counter by using the miracle of the Qur’an, the power of a certain verse we call the Ayat Kursi. No paranormals, orang pinter’s for me. An ustadz told me, “you don’t need all those people. Just read the Ayat Kursi over and over again.”

So that’s the advice I’m taking, plus I’m doing a little soul searching because I also believe that everything happens for a reason, and that this a slight “warning” from the Almighty, telling me to get my act together.

Point well taken. Here’s to a better me!

I need a day off

'Nuff said.

This afternoon my personal trainer (yes people, I have a personal trainer…I have joined the likes of Oprah Winfrey & J.Lo :-)) asked me "When is your day off?"

It was then and there I realized I haven't had a day off in the past 4 months (except weekends and those are sometimes used for work too :-(). After returning from vacation in UK on January 30th, I jumped in full speed into teaching duties, proposal writing, training, reviewing, etc, etc…There were also two weeks of taking care of Mom & Dad in the hospital 😦 It was like I crammed all my holidays in January.

Wow. Of course the question is, do we need days off? You know, one weekday where we  don't go to work? 

I think we do. Not regularly, but there are times when we need to take a "personal day", a day just for "me", to do our own thing & not think of anything else…we need to recharge our batteries every now and then. Personally I have been longing for a day off this month, but it hasn't happened yet.  

Let me know what you think!

Anatomy of a breakdown…

Today I witnessed something that I do not want to see again, ever.

 I saw someone have a nervous breakdown right in front of me.  What made it worse was the fact that it was one of my students. (See previous post about the long rambling email…).
Times are tough in Indonesia, and apparently even the brighest minds can snap. How sad. A myriad of emotions are running through me right now. To see someone who was full of life become an empty shell of himself just about killed me. 

 I hope that he is safe and that Allah protects him and brings him home to his mother & family.

Sigh. 

Hello world!

Well, I did it. I jumped into the pool of the Net’s latest big thing… blogging, thanks to my computer geek brother (Love ya Bro!)

So I wonder… now what?

You WRITE, that’s what!

Write about what?

Weeeell, it’s called Sita’s musings so you better start ‘musing  🙂

OK, OK… next post, I promise, till then, cheers!