Where do I belong?

After back-to-back meetings on managing academic programs, this thought crept into my mind, unwanted:

this is you now. you are now reduced to a middle manager. you are no longer a scientist. you have not produced a decent research project in years, and you have not been involved in any research projects.

Aaaaargh!

Can it really be true? Have I truly “forgot” how to be a scientist? Please don’t let it happen!!!

Hey, this horoscope sounds right!

My daily horoscope today:

You might have conflicting emotions about what you want to do today. On one hand, you understand that it’s crucial to follow through and deliver what others are expecting from you. On the other hand, you are tired of always being the one who has to ride to the rescue at the last minute and bail out everyone involved. This time you are tempted to just let it all fall apart. Obviously, abandonment isn’t a smart idea. Once again, do your best and then call it a day.

And yesterday:

Although the day may begin slowly, your creativity suddenly comes alive with a burst of energy. You are not inclined toward self-restraint; pushing yourself to the max can be quite exhilarating. Nevertheless, there’s a price to pay for putting out too much of yourself all at once. Set a steady pace or you will be exhausted before you finish what you started.

These are one of those times where my horoscope isn’t that far off 🙂

Pendidikan Tinggi, Mahal (tapi Perlu)

Sebagian tulisan ini saya buat sebagai respon email di suatu terhadap artikel ini. Kalau karena editorial seperti ini masyarakat yang secara ekonomi kurang mampu sampai tidak berani mendaftar ke perguruan tinggu yang diinginkan, bolehkah saya melaporkan media massa karena pemberitaan yang berpihak dan tidak sepenuhnya benar? Masa cuma infotainment yang melaporkan Luna Maya?

Sudah lama saya gerah mendengar pendapat berbagai kalangan tentang betapa komersilnya pendidikan tinggi sekarang apalagi dulu, kuliah di PTN seperti UI, ITB, IPB, UGM dll jaman tahun 80-90an tergolong murah. Terlalu murah bahkan. Sekarang di abad ke 21, begitu uang kuliah per semester naik menjadi hitungan “juta” tiba-tiba banyak orang teriak: “Wah, UI sekarang komersil banget ya”, “Untuk kuliah di UI mesti sedia uang banyak”, dan yang paling bikin gerah “yang kuliah di UI cuma anak orang kaya”.

Memang artikel dimaksud merupakan editorial jadi pendapat si penulis. Silakan deh. Cuma kalau mau memaki-maki Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP), dibaca dulu isi UU-BHP secara tuntas. Dibaca dulu apakah ada pasal pemerintah memang betul-betul lepas tangan (tidak ada). Dibaca dulu apakah ada peraturan yang menutup akses terhadap mahasiswa kurang mampu (tidak ada, bahkan ada kewajiban harus memiliki populasi mahasiswa kurang mampu 20%). Hal yang tidak/kurang terungkap adalah bahwa sebetulnya PTS juga punya interest untuk tidak mendukung UU BHP yaitu kewajiban memiliki Majelis Wali Amanah merupakan kenyataan bahwa tidak ada lagi kepemilikan tunggal di Perguruan Tinggi. Alias, “yayasan” atau pemilik kehilangan mayoritas kepemilikan. Perubahan budaya ini yang masih sukar diterima dan sebetulnya menjadi alasan di balik alasan.

Universitas yang tua/besar/BHMN memang selalu dituding sebagai PT komersial dan tidak lagi manusiawi. Saya kadang nyengir kecut. Kalau sesuatu itu komersial kan berarti ada keuntungan? Apakah ada bukti bahwa universitas mengeruk keuntungan? Uangnya kan sebagian besar untuk biaya operasional yang juga semakin tinggi. Tapi (dan hal ini yang seringkali cuma jadi footnote karena tidak menarik dan tidak “menjual” seperti isu komersialisasi) banyak bantuan keuangan dalam bentuk keringanan maupun beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa. Dan jangan pikir bahwa yang kuliah di PT tua/besar/BHMN anak orang kaya semua. Saya punya kok mahasiswa anak tukang bakso, buruh cuci, tukang sampah dorong di RT. Memang harus memenuhi syarat kelulusan masuk. Kalau sudah diterima baru kita berunding masalah biaya. Rasanya kalau UI sudah bolak balik kita jelaskan pada berbagai kalangan termasuk media tapi seringkali bagian itu hilang tuh tidak dicetak. Power of editing hehehe.

Dulu waktu kuliah S1, saya cuma bayar 54.000/semester. Tapi dengan konsekuensi apa? Praktikum relatif seadanya, perpustakaan tidak punya buku lengkap, pencairan dana dari pemerintah sulit (sekarang masih juga sih :-)) dan sulit untuk melakukan suatu kegiatan yang bersifat pengembangan bagi guru-guru/dosen saya waktu itu. Dosen harus banting tulang sabet sana-sini (sekarang masih juga walau sudah mulai berkurang) sehingga tidak bisa melakukan penelitian. Bantuan ada tapi tidak merata. Sering ada sumbangan peralatan, tapi barang yang datang tidak sesuai dengan yang dipesan.Tidak heran kemajuan ilmu terutama sains dan teknologi di Indonesia terhambat, lha dulu dana pemerintah seadanya.

Sekarang? Di fakultas saya, selain uang biaya pendidikan per semester, tetap tidak ada uang tambahan seperti untuk praktikum. Biaya pendidikan termasuk: akses internet gratis, akses perpustakaan (ada uang registrasi 5000 kalau tidak salah), akses kepada Pusat Kesehatan Mahasiswa (pasien yang mahasiswa/dosen cuma bayar Rp.2500 untuk obat!!!), akses ke Bis kampus, pinjam sepeda , dll.

Uang pemerintah tetap “seadanya” (ya tergantung siapa yang ditanya). Menurut saya, uang yang ada haruslah lebih untuk membesarkan pendidikan dasar dan menengah. Masih banyak SD di pelosok ala Laskar Pelangi (terima kasih Andrea Hirata untuk peningkatan awareness yang tidak terkira) yang belum tersentuh anggaran pendidikan 20%. Masih banyak guru yang cuma dibayar 5 ribu rupiah/bulan. Hal tersebut harusnya jadi prioritas, dan bukan terus beri ijin buka program studi baru padahal yang ada pun tidak semuanya penuh daya tampungnya? Atau terus sekedar memberi bantuan pada PTS yang muridnya cuma 100 dan jumlah mahasiswa baru terus menurun? Tuduhan bahwa PTN yang merebut mahasiswa PTS dengan buka segala macam program itu bagi saya adalah maaf, argumen “basi”. Kalau memang punya menawarkan sesuatu yang beda, pasti mahasiswa akan datang. Lihat saja UBINUS. Dan jangan langsung teriak “Yaaa mereka kan punya modal kuat”. Lha terus kalau tidak punya modal untuk berani investasi, kenapa buka perguruan tinggi???

Menyelenggarakan pendidikan butuh biaya. Negara lain di dunia yang punya konsep pendidikan gratis, juga sudah punya sistem perpajakan yang baik. Semua bayar pajak yang lumayan tinggi. Tidak bisa dibandingkan. Indonesia? Kalau bisa ngga bayar pajak, ngga bayar deh. Rame-rame punya NPWP juga biar ngga bayar fiskal hehehe.

Oh ya, satu lagi yang menggemaskan. Pada saat membahas biaya pendidikan, biasanya golongan orang tua yang paling ribut adalah bukan golongan kurang mampu, tapi golongan yang sebenarnya punya uang. Prinsipnya kalau bisa menawar, kenapa tidak dicoba? Namanya juga usaha hehehe. Pesan saya kepada Bapak dan ibu orang tua calon mahasiswa: Rencanakan pendidikan putra-putri anda dengan baik. Manfaatkan tabungan pendidikan/asuransi dll yang dapat membantu biaya pendidikan kalau perlu.

Nah kepada teman-teman saya yang membaca, saya cuplik percakapan saya dengan 2 orang mahasiswa:
1. Saya: “Apa pekerjaan orang tua mu?”
Mahasiswa: “Jualan bakso bu.”
saya: “Oooh… punya warung?”
mahasiswa: “Tidak bu, pakai gerobak.” (dikeluarkan foto rumahnya yang diambil oleh tim survei beasiswa). “Bu mohon ibu percaya bahwa orang tua saya tukang bakso. Gerobak ibu saya tidak ada di foto, karena ibu sudah berangkat.”
saya: speechless for 5 minutes.

2. Saya: “Apa pekerjaan orang tua mu?”
Mahasiswa: “Ayah saya tukang sampah”
Saya: “oh di dinas kebersihan?”
mahasiswa: “Bukan bu, beliau yang dorong-dorong gerobak sampah di RT”
Saya: speechless again.

It is for them I slave for my university. Saya percaya, pendidikan yang baik akan mengeluarkan orang keluar dari kemiskinan. Oleh karena itu, pleaseeee, tolong, kalau putra-putri diterima di universitas besar, tolong jangan ikut “negosiasi” untuk minta keringanan. Kami harus memikirkan mahasiswa yang betul-betul membutuhkan. Kalau Bapak dan ibu tidak segan bayar mahal untuk masuk ke SD/SMP/SMA favorit mengapa begitu sampai di universitas, jadi tawar menawar?

Quote from President Barack Obama’s Speech on launch of “Educate to Innovate”

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidato peluncuran program “Educate to Innovate” :

The leadership of tomorrow depends on how we educate our students, especially in those fields who hold promise of future innovations and innovators. That’s why education in math and science is so important.”

Time and again, we have let partisan and petty bickering, stand in the way of progress. Time and again, we have let our children down.”

Jadi dapatkah kita sejenak menaruh drama politik di belakang (seberapa pun pentingnya pemberantasan korupsi) untuk juga memberi energi yang sama untuk perbaikan pendidikan? Apalagi bila pendidikan yang baik juga dapat menghasilkan orang-orang yang tidak korupsi?

The Heart is not Rational

About five years ago, a certain “event” caused to me to utter the phrase “Matter of the hearts is never rational”.

And how true that is. While biologically, the Heart (Bahasa Indonesia: “Jantung”) is the major organ in our body which distributes absolutely important oxygen to our cells, we often use the word “heart” (Bahasa Indonesia: “Hati”) when we feel something we can’t really explain with our rational and logic. Falling in love is never logical. The question “What do you see in him/her?” always appears in conversation as we stumble in trying to explain why we love him/her.

So as I ponder some news that has upset me today, I can only seek comfort that based on previous experience (that’s the work of the brain :-)) the brain will understand the heart, eventually.

Berbahasa (apapun) dengan baik dan benar

Akhir-akhir ini, di milis keluarga besar Biologi UI berkembang suatu diskusi yang seru tentang penggunaan bahasa untuk komunikasi dalam milis. Ceritanya bermula dari seorang anggota yang menulis dengan Bahasa Inggris campur Bahasa Indonesia dan kemudian dikritik oleh anggota-anggota lain karena bahasa yang digunakan tidak komunikatif dan sulit dimengerti. Dari situ, diskusi berkembang menjadi sebuah diskusi tentang penggunaan bahasa.

Anak-anak Biologi, berdiskusi tentang bahasa? Ibu BSO would be so proud of her students.

Seperti yang terlihat dalam posting ini, saya termasuk “penjahat bahasa”, artinya sering menggunakan campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Kebetulan, kompetensi saya dalam kedua bahasa tersebut lebih kurang setara. Tidak tahu persis, karena untuk Bahasa Indonesia tidak pernah ada tes kompetensi berbahasa (walau sekitar dua puluh tahun yang lalu, Bahasa Indonesia saya dapat A dari Ibu BSO, does that count?).

Nah kan, mulai campur-campur lagi. Beberapa anggota milis mengatakan bahwa sebaiknya dalam satu buah posting, penggunaan bahasa konsisten, artinya kalau sudah mulai pakai Bahasa Indonesia, ya sampai selesai pakai Bahasa Indonesia. Kalau pakai Bahasa Inggris, ya sampai selesai pakai Bahasa Inggris. Kalau di awal pakai Bahasa Jerman, harus ada Bahasa Indonesia, karena persentase anggota yang mengerti Bahasa Jerman hanya sedikit :-D. Lalu kemudian ada pendapat lain yang mengatakan bahwa penggunaan bahasa campur-campur sebaiknya tetap dipertahankan, karena kapan lagi kita akan berlatih Bahasa Inggris?

Sebagai orang yang pernah mengajar Bahasa Inggris, saya sangat setuju dengan usul kedua. Kalau melihat arsip-arsip dari blog saya, pasti akan ketemu posting tentang pentingnya berbahasa Inggris. Sebagai pembimbing skripsi, saya sangat setuju dengan usul pertama. Lho, jadinya kita harus bagaimana?

Menurut saya, semua tergantung tujuan kita menulis. Berdasarkan pengalaman, menulis posting sebuah milis atau blog bahasa bisa lebih informal daripada bahasa dalam menulis skripsi atau artikel ilmiah. Tapi sebetulnya, menulis di milis atau blog pun perlu penggunaan bahasa yang baik dan benar karena apapun tujuannya, kita ingin agar pembaca mengerti dengan apa yang kita tulis. Dan kita juga ingin agar orang terus membaca tulisan kita kan? Cobalah melihat blog yang pengunjungnya banyak, misal blog iman brotoseno atau blog si penulis jomblo adhitya mulya. Kedua blog tersebut memiliki gaya berbeda tapi tetap komunikatif dan enak dibaca. Kalau mau meniru, ya tiru lah yang baik seperti itu. Mau blog yang lebih dekat ke warga biologi? Coba baca blog noonathome alumni Biologi.

Saya sendiri punya lebih dari satu blog karena ingin terus mempertahankan kemampuan bilingual saya. Tapi, saya mohon maaf kalau misalnya penggunaan dua bahasa ternyata mengurangi kenyamanan membaca.

Selamat menulis!

Guru Galak?

Tugas saya sebagai Koordinator Pendidikan (“Bu Kordik”) membawa saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi mahasiswa Departemen Biologi.

Sebetulnya kalau membaca job description yang original, tugas saya adalah meng-koordinir kegiatan pendidikan di Departemen. Tidak sulit.

Akan tetapi, kenyataannya, di lapangan sedikit banyak berbeda . Saya sering multi-tasking, mulai dari tukang ketik, tempat curhat, ‘bemper’ fakultas, ‘algojo’….Basically, kordik itu dianggap sebagai hotline untuk segala urusan pendidikan Biologi.

Departemen Biologi itu tidak besar. Student body 350-400, dosen tetap sekitar 34. Harusnya, sekali lagi tidak sulit. Apalagi kan, mahasiswa Bio itu sebetulnya pinter-pinter, apalagi dosennya.

But aduh ampun, sometimes, ok a lot of the time, I am overwhelmed. Banyak yang berharap (atau expect) kordik akan menyelesaikan masalahnya. Well, here’s the deal–tidak semua masalah bisa diselesaikan kordik, dan semua masalah perlu kerjasama untuk solusinya. Kerjasama dari siapa? Ya semua, dari dosen, mahasiswa, sampai bagian admin.

And that is what we lack… the willingness and ability to work in a team. Sering saya pikir, kita harus outbound training niih. Karena seringkali saya harus pontang-panting sendiri (atau bertiga dengan kadep dan sekdep) padahal sebetulnya kalau saja ada yang mengorganisir, ya bisa lebih ringan kerja.

Tapi, tunggu. Apa hubungannya dengan guru galak?

Begini. Karena beban kerja saya lagi super banyak, jadi suara saya yang sudah keras menjadi semakin keras. Saya tahu, kesan mahasiswa pada saya adalah saya guru yang galak (padahal rasanya ada yang lebih galak lagi dari saya, hehehe). Saya akui, saya adalah orang yang keras. Kalau kakak saya bilang, saya sering mengeluarkan “aura judes”. Hehehe. Mungkin ya. But as I am in my 40s now, I hope I can be more patient with people. Pengennya saya bukan galak, tapi tegas.

Memang, yang (paling) sering terkena “semprotan” adalah mahasiswa. Pasalnya, saya memegang prinsip “toleransi berbanding terbalik dengan jumlah semester.” Artinya kalau dengan mahasiswa semester 1-2 saya masih coba toleran, mahasiswa tingkat skripsi jangan terlalu banyak berharap bahwa saya mengikuti “maunya kalian”. Karena apa yang dilontarkan terkadang tidak logis atau mahasiswa sering ‘ngeyel’. Contoh paling terakhir mungkin adalah saat berunding urusan waktu penyelenggaraan Anemon kemarin. Atau dealing dengan mahasiswa peserta Kerja Praktek.

Beda ya dengan ibu kordik yang dulu? ya iyalah, orangnya beda :-). Beban kerja saya dengan kordik yang dulu juga beda. Cara saya handle masalah, apa lagi. Hal ini yang sering menyebabkan saya dicap ‘guru galak’, dosen killer, muka jutek dll.

Hehehe, ikhlas deh, terima itu. Saya coba berusaha untuk mengurangi “ke-jutek-an” saya. Terutama semester ini, rasanya kesabaran saya diuji sampai ke suatu titik yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ada di dalam diri saya. Saya juga merasa kok, pengajaran saya tidak optimal. Seperti stuck di suatu tempat. Tidak bisa memotivasi mahasiswa dengan baik. Banyak nyap-nyapnya. Akibatnya muka judes sering dipasang.

Cuma, kalau boleh saya kritik mahasiswa, tampaknya mahasiswa juga tidak se-curious yang saya harapkan. Dipancing tanya, banyak diam. Pengamatan praktikum, banyak tidak ikutnya. Terus terang saya kaget tapi ya itulah mahasiswa. Saya tidak menginginkan anak-anak manis yang hanya duduk terima perintah saja, tapi berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa yang kurang motivated juga not fun.

Belum informasi tentang proses pendidikan, lebih senang mendengarkan “Kata senior”, “kata teman-teman”. Informasi cepat berkembang dan penuh bumbu-bumbu kecap. Akibatnya, informasi yang sampai ke saya, sudah sedemikian terdistorsaya sering ‘meledak’ dulu, baru kemudian saya berusaha menenangkan diri. At the very least, mahasiswa diharapkan tanya ke Penasihat Akademik. Tapi, seringkali PA juga dibypass.

Life is a journey. This part of my journey was full of unexpected twists and turns, peaks and valleys. Akhir semester, kebetulan akhir tahun 2007 juga, jadi merupakan momen yang tepat untuk look back and reflect. Kalau cerminnya berdebu, ya dibersihkan dulu 🙂

Selamat Tahun Baru 2008!