In too Deep?

Sometimes (sometimes???) I think I care too much about certain things. When I do that, I tend to take stuff personally and it kinda eats at me.

Not good, obviously.

I know if I stopped caring, the earth would still rotate on its axis. It does NOT revolve around me. Would it be a better place? Well, what do I care?

See, there’s the thing. I CARE. Because at times, I know what they say isn’t true. And I feel the urge to spit out what I know is true.And because I do, I tend get into stupid arguments. And then it goes round and round.

OK, self note: PICK YOUR BATTLES. Let go of the other stuff.

Advertisements

Kejujuran itu masih ada, kawan…

Bagi kita yang tinggal di  Indonesia,kita masih cukup sering memerlukan kehadiran seorang pembantu/asisten untuk mendukung kehidupan sehari-hari. Apalagi jika dalam rumah tangga ada anak ( < 12th) atau orang tua ( >60th). Biasanya “pasukan” asisten ini berasal dari daerah-daerah rural di Indonesia, dari keluarga yang kurang mampu dan mengirim putra/putrinya (atau malah sekeluarga) ber-“urbanisasi” ke kota, mencari penghidupan lebih baik.

Kenyataan bahwa, gaji sebagai asisten/pembantu seringkali masih “pas-pas-an” dan ditambah dengan perilaku si pemilik rumah yang suka jor-joran pamer, meninggalkan barang mahal di atas meja, belanja-belanja sering memunculkan godaan bagi si asisten tersebut.

Lalu berapa banyakkah asisten yang tergoda untuk mengambil barang/uang yang bukan miliknya? Mungkin lebih banyak yang diperkirakan. Maklum, keadaan memungkinkan (pemilik rumah pergi dan rumah dipercayakan kepada asisten).

Saya termasuk pemilik rumah yang beberapa kali jadi “korban” asisten “tergoda”. Kalau kepergok, ada saja alasannya. Saya sudah dengar cukup banyak dan sikap saya biasanya kasih kesempatan kedua. Atau ketiga. Akan tetapi setelah 2-3 kali tidak bisa jaga amanah dititipkan, maka lebih baik saya suruh cari pekerjaan lain saja.

Nah, kejadian terakhir, 2 minggu lalu, berkaitan dengan asisten di rumah ayah saya, dan sepasang giwang warisan ibu saya yang selalu saya pakai setelah ibu meninggal tahun lalu. Saat itu, saya melepas dan tidak menaruh pd tempat biasanya sehingga saat mau berangkat ke kantor, giwang tersebut terselip. Tapi saya tahu persis ada di kamar. Saya titipkan asisten di rumah untuk hati-hati dalam menyapu agar tidak ikut tersapu.

Jadiii… bayangkanlah perasaan saya ketika saya tanya lagi beberapa hari kemudian si mbak ngeles bilang “cuma ketemu satu, nggak saya simpen” Astaga, ini setelah secara eksplisit saya katakan untuk menyimpan apabila menemukan? Saya cuma bisa melotot dan mengatakan “HAH???” bolak balik saya tanya jawabnya “ngga tau, ngga tau…” akhirnya saya tinggal ke kamar, banting pintu dan menangis. Menangisi barang yang menjadi kenangan dari ibu saya. Dan berusaha mengikhlaskan.

Nasib si asisten? TIdak saya apa-apakan dulu, karena saya ingat pesan orang tua agar selalu hati-hati. Kita tidak bisa menyalahkan si “maling” krn itu sangat menggoda mereka (namanya juga manusia). Ada rasa curiga? Oh tentu ada, apalagi ketika dpt laporan si supir setia bahwa menurut “seseorang” barang itu masih ada di kamar. Si supir mencoba provokasi agar saya tanya kembali.

Entah kenapa hal itu tidak saya lakukan. Saya sedang dalam proses mengikhlaskan kehilangan, memaafkan kekhilafan, dan selalu ingat bahwa akan ada balasan bagi setiap perbuatan yang dilakukan. Kalau dia berniat tidak baik, pasti akan ada balasan yang setimpal. Jadi saya tidak mau berlebihan memberi pelajaran, karena bagaimanapun dia masih bantu merawat ayah yang duda. Saya usahakan bersikap se-normal mungkin ketika bertemu lagi dengan dia seminggu kemudian.

Daaaan… ternyata, kejujuran masih ada. Kemarin saya pergi seharian, ketika malam hari saya kembali saya melihat sepasang giwang tersebut ada di meja rias kamar saya. Alhamdulillah. Ternyata, si mbak masih punya hati nurani, masih menimbang perasaan dan mengembalikan giwang tersebut. Sungguh saya tidak menyangka dan untuk mengapresiasinya saya memang tidak menyampaikan secara langsung karena sebetulnya sudah mau “tutup buku” tapi saya kirim sms “Terima kasih untuk mencari kembali giwang saya.” Mudah-mudahan cukup karena saya tidak ingin punya kesan bahwa saya sempat curiga terhadap perilakunya.

Jadi pelajaran hari ini adalah: kejujuran masih ada, kawan. So, mari kita pupuk perilaku yang menanamkan kejujuran, integritas dan menghargai hak orang lain. Mudah-mudahan, yang sedang sumpah menyumpah di pengadilan dapat melihat kembali ke dalam hati, dan mengakui kesalahannya. Sungguh, itu sangat terhormat.

Mengambil Pelajaran dari Perang Media Sosial: Pick Your Battles and Take the High Road

Waduh, ternyata ibu artis 80-an ini belum bisa/tidak mau kehilangan kesempatan untuk terus berkicau di media sosial twitter bahkan menyeret nama artis lain di tahun 80-an dengan menyebar berita gak bener. Kalau melihat kicauan dalam akun twitternya, maka mungkin bisa jadi bahan perkuliahan di fakultas-fakultas yang membahas perilaku manusia (atau makhluk hidup secara umum).

Dan, siapakah di antara kita yang tahan mendapatkan serangan terus-menerus tanpa henti? Kita kemudian memaklumi apabila mas Addie MS, mbak Memes dan putranya Kevin mulai secara selektif menjawab kicauan dari si bu artis karena kelihatannya si bu artis belum mau berhenti kalau belum dijawab (sudah dijawabpun, beliau masih terus berkicau). Saya harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada keluarga mas Addie yang mewujudkan makna peribahasa bahasa inggris di judul posting ini: Pick Your Battles. Take the High Road. Pilih-pilihlah pertarungannya, kalau tidak perlu jangan diladeni, ambil jalan yang lebih terhormat. Selain itu, menyaksikan interaksi bapak-anak di era digital juga mengesankan, misalnya bagaimana mas Addie mengingatkan Kevin untuk tidak terpancing melalui tweetnya.

Hal yang tidak kalah menarik dan membesarkan hati adalah sikap dan perilaku kedua putri  si ibu artis yang sangat dewasa dan mampu menahan emosi. Bisakah kita membayangkan perasaan mereka melihat perilaku ibu mereka dan bagaimana “balasan” masyarakat yang juga sadis? Di sini, kita harus memberi penghargaan kepada kedua orang tua mereka (ya, termasuk ibunda mereka yang tercinta). Their mama (and papa) raised them right.

Sikap dan perilaku mas Addie, mbak Memes, Kevin, Bella dan Chikita menurut saya sudah ,mulai jarang kita temui. Menyimak tweet mereka, memberi harapan pada kita, bahwa tidak semua selebriti dan keluarganya di Jakarta, Indonesia hanya bersikap menebar sensasi.

Perang Media Sosial yang Menyeret Nama Universitas

Tahun baru, cerita lama, modus baru?

Tadinya, saya cuma ikut ketawa melihat keributan yang ditimbulkan seorang artis tahun 80-an di beberapa blognya, antara lain di sini sambil bersimpati kepada universitas tetangga di Bogor. Bagaimana tidak, logo universitas diumbar sembarangan, nama seorang dekan diseret-seret nggak karuan. Tapi, itu memang resiko bagi anggota komunitas akademik (baca: dosen) yang memutuskan hadir di jejaring media sosial seperti facebook atau twitter.

Jadi apa sumber keributannya?  Bisa buka salah satu blog si ibu artis (ada beberapa), seperti di atas, atau di blogdetik. Intinya, ibu artis marah karena gelar akademiknya yang terakhir dipertanyakan oleh seorang pengguna twitter. Oleh karena ibu artis ini sudah pernah mengamuk juga sebelumnya, maka pengguna twitter di Indonesia secara kolektif tertawa bersama, kecuali tentu yang namanya ikut dibawa-bawa. Tapi yang kenal si ibu, sudah “maklum” perilaku beliau, dan tidak ingin ikut ribut.

Lalu, kenapa saya yang sekarang ikut ribut? Kalau teman saya bilang “mau ngaku-ngaku titisan dewa, atau Cleopatra, silakan, tapi jangan menyeret almamater.” Ya, bapak/ibu/saudara, ternyata orang memang senang kalau ada afiliasi dengan PTN-PTN besar di Indonesia, (walau saya dengar, akhir-akhir ini, jadi “orang UI” justru mengundang pertanyaan 🙂 Tapi itu untuk posting lain.). Jadi, kalau ada orang iseng membawa-bawa nama almamater, jelas gerah lah.

Kembali lagi ke masalah ibu artis vs seorang tweep, ternyata ada beberapa orang yang iseng-iseng mencoba cari latarbelakang orang yang disebut “kamseupay” oleh si ibu artis. Saya sendiri sudah familiar dengan orang tersebut dan tadinya tidak terlalu peduli karena menganggap beliau tidak penting, dan ingin nebeng “tenar” dengan kelompok dosen-dosen yang tergabung dalam gerakan #SAVEUI dan Perempuan Lintas Fakultas untuk Reformasi UI (PELITA UI).

Dan apa yang terjadi? Muncul sebuah akun twitter @PelitaUI, yang isinya mati-matian bela si tweep lulusan universitas Amsterdam, bahkan secara berseri menuliskan riwayat kuliah ibu lulusan universitas Amsterdam. Kalau isinya cuma itu, plus beberapa orasi ilmiah pengajar UI yang tergabung dalam #SAVE UI dan Pelita UI, ya silakan. Tapi hari ini, saya periksa, dan muncul tweet-tweet seperti ini:

1. “Seluruh Pengajar @SaveUI dan @PelitaUI adalah lulusan UI yg sahih @DeeDeeKartika @tamrintomagola @_Baso_

2.Tapi yg tergabung dalam @SaveUI dan @PelitaUI sahih karena kami lulus sebelum masa Gumilar @tamrintomagola @DeeDeeKartika @_baso_

Dan yang sudah bersifat fitnah, menurut saya adalah tweet ini, yang me-reply pertanyaan seorang alumni yang lulus pada periode 2007-2011:

“Gumilar banyak menerima mahasiswa baru jalur undangan yg tdk berkualitas @bebe_silhouette: Saya lulus era Bpk Gumilar, ada bedanya ya Bu?”

Hohohoho, mohon maaf, boleh berpandangan miring terhadap Pak Rektor, silakan lapor kepada BPK, KPK, ICW, dan berbagai institusi lain, tapi mempertanyakan kualitas input UI secara umum pada periode Pak Gumilar menurut saya adalah suatu penghinaan terhadap institusi UI. Kalau mau ngecek daftar mahasiswa yang diterima selama periode Pak Gumilar sampai saat ini (2008-2011), tolong cek ke Direktorat Pendidikan. Jangan main tweet yang seperti itu. BPK juga melakukan pengecekan kok selama audit di UI dengan secara random menelpon orang tua mahasiswa untuk cross check berita tentang uang masuk di UI.

Dosen UI jumlahnya sekitar 1800-an. Tidak dosen semua tergabung dalam kelompok #SAVEUI atau Pelita UI. Tidak semua dosen punya akun Facebook atau Twitter. Tapi itu tidak berarti bahwa dosen-dosen tersebut tidak bekerja keras untuk menghasilkan lulusan yang kompeten. Mungkin malah mereka lebih kerja keras karena tidak sibuk main twitter *wink*. Membuat pernyataan seperti itu di sebuah media sosial seperti twitter, sungguh tidak mencerminkan perilaku akademik.

Jadi #SAVEUI, Pelita UI tolong deh, kendalikan anggotanya. Orang yang peduli UI bukan cuma kelompok anda.

[Crosspost dari blog saya di UI karena penting bagi saya]

What keeps you going?

What keeps you going, after losing everything you have?

Yesterday I received some horrible news about a friend. Her house burned down in the middle of the night, along with the family owned bakery, and their cars. According to the news nothing could be saved. Luckily they were no human casualities. My friend and husband were out of town, and the one child inside the house managed to escape the inferno.

What keeps you going? Faith, for one thing.

Another thing? A sense of humor no doubt. When I commented on her recent posting to facebook she said “Life seems so simple when all is left is one laptop, one harddrive, one mobile phone, one backpack and one handbag. What a wonderful world, he he”

What a wonderful world indeed if we can all see the hopeful side of things.

Dedicated to ibu Meis in Manado. Thoughts and prayers with you and your family.

Careful, your face might freeze that way!

Stop making weird faces…your face might freeze that way.

I am not sure who actually said this, but I often hear/read this saying. And you know what? I think its kinda true.

I have some friends who somehow think that a day without complaining is a day wasted. Their faces seem to be stuck in a perpetual long face, unsmiling, often scowling.

So folks, be careful. Stop putting on a negative face, it might just freeze that way.

Smile!!!

Why does it feel different this time?

Having been part of university management this past decade has often put me in situations where the “management” is seemingly portrayed as some kinda of “bad guy” trying to disturb the haven of academic society in the university.

In all situations, I have enjoyed support of my direct superiors whenever faced with people who, hmm, don’t quite understand the decisions made in the university.

That is, until this weekend when a direct superior posted a scathing email in the staff mailing list, questioning the motives of a selection committee that I am a member of.

Honestly, the email felt like a punch in the gut. Of course close friends told me to ignore this email, and to move on. Of course we move on, but not before sending out a reply keeping emotions in check through gritted teeth.

You know, it wasn’t the first provocative I’d ever received. But this one caught me off guard, because it came from a direct superior, who I just met the day before and said practically nothing. Instead, the person decided to ruin a weekend by sending out an email basically accusing the committee of trying to ruin the collegial atmosphere, and challenging us to come up with better rules and regulations.

I would’ve accepted this “public” scolding if I hadn’t shown the rules and regulations the previous day. I had presented the draft and received a quiet assent. And yet, the following day, came the ridiculous email. This person had crossed the fine line of governing and politicking.

99% of the time, I can ignore emails like that. This was the 1% that I couldn’t. This time, it felt different because the person who did the provoking was a direct superior.

And that my friends, shows the quality of a leader. You deal the issues when YOU face them, and not by sending a public email to the staff mailing list.